Powered By Blogger

Selasa, 17 Februari 2026

karya buya HAMKA

Biarkanlah saya menyebut apa yang terasa; Kemudian tuan bebas memberi saya nama dengan apa yang tuan sukai; Saya adalah pemberi maaf, dan perangai saya adalah mudah, tidak sulit. Cuma rasa hati sanubari itu tidaklah dapat saya menjualnya; Katakanlah kepadaku, demi Tuhan. Adakah rasa hati sanubari itu bisa dijual?

4 ulasan:

  1. Perkembangan manusia adalah bila seseorang diberi kitab yang tertutup, ditulis sebelum ia lahir. Ia membawanya di dalam dirinya sampai ‘meninggal’. Saat manusia menjadi subyek dalam pergerakan waktu, ia tidak tahu apa isi kitab yang tertutup itu.

    BalasPadam
  2. Mungkin kau berencana pergi,
    seperti ruh manusia
    tinggalkan dunia membawa hampir semua
    kemanisan diri bersamanya

    Kau pelanai kudamu

    Kau benar-benar harus pergi
    Ingat kau punya teman disini yang setia
    rumput dan langit

    Pernahkah kukecewakan dirimu ?
    Mungkin kau tengah marah
    Tetapi ingatlah malam-malam
    yang penuh percakapan,
    karya-karya bagus,
    melati-melati kuning di pinggir laut

    Kerinduan, ujar Jibril
    biarlah demikian
    Syam-i Tabriz,
    Wajahmu adalah apa yang coba diingat-ingat lagi oleh setiap agama

    Aku telah mendobrak kedalam kerinduan,
    Penuh dengan nestapa yang telah kurasakan sebelumnya
    tapi tiada semacam ini

    Sang inti penuntun pada cinta
    Jiwa membantu sumber ilham

    Pegang erat sakit istimewamu ini
    Ia juga bisa membawamu pada Tuhan

    Tugasku adalah membawa cinta ini
    sebagai pelipur untuk mereka yang kangen kamu,
    untuk pergi kemanapun kau melangkah
    dan menatap lumpur-lumpur
    yang terinjak olehmu

    muram cahaya mentari,
    pucat dinding ini

    Cinta menjauh
    Cahayanya berubah

    Ternyata ku perlu keanggunan
    lebih dari yang kupikirkan

    BalasPadam
  3. Setelah diri bertambah besar
    di tempat kecil tak muat lagi,
    Setelah harga bertambah tinggi
    orang pun segan datang menawar,
    Rumit beredar di tempat kecil
    kerap bertemu kawan yang culas,
    Laksana ombak di dalam gelas
    diri merasai bagai terpencil,

    Walaupun musnah harta dan benda
    harga diri janganlah jatuh,
    Binaan pertama walaupun runtuh
    kerja yang baru mulailah pula,

    Pahlawan budi tak pernah nganggur
    khidmat hidup sambung bersambung,
    Kadang turun kadang membumbung
    sampai istirehat di liang kubur,

    Tahan haus tahanlah lapar
    bertemu sulit hendaklah tengang,
    Memohon-mohon jadikan pantang
    dari mengemis biar terkapar,

    Hanya dua tempat bertanya
    pertama tuhan kedua hati,
    Dari mulai hidup sampai pun mati
    timbangan insan tidaklah sama,

    Hanya sekali singgah ke alam
    sesudah mati tak balik lagi,
    Baru rang tahu siapa diri
    setelah tidur di kubur kelam,

    Wahai diriku teruslah maju
    di tengah jalan janganlah berhenti,
    Sebelum ajal, janganlah mati
    keredhaan Allah, itulah tuju,

    Selama nampak tubuh jasmani
    gelanggang malaikat bersama setan,
    Ada pujian ada celaan
    lulus ujian siapa berani,

    Jika hartamu sudah tak ada
    belumlah engkau bernama rugi,
    Jika berani tak ada lagi
    separuh kekayaan porak peranda,

    Musnah segala apa yang ada
    jikalau jatuh martabat diri,
    Wajah pun muram hilanglah seri
    ratapan batin dosa namanya,

    Jikalau dasar budimu culas
    tidaklah berubah kerana pangkat,
    Bertambah tinggi jejang di tingkat
    perangai asal bertambah jelas,

    Tatkala engkau menjadi palu
    beranilah memukul habis-habisan,
    Tiba giliran jadi landasan
    tahanlah pukulan biar bertalu,

    Ada nasihat saya terima
    menyatakan fikiran baik berhenti,
    sebablah banyak orang membenci
    supaya engkau aman sentosa,

    Menahan fikiran aku tak mungkin
    menumpul kalam aku tak kuasa,
    Merdeka berfikir gagah perkasa
    berani menyebut yang aku yakin,

    Celalah saya makilah saya
    akan ku sambut bertahan hati,
    Ada yang suka ada yang benci
    hiasan hidup di alam maya

    BalasPadam
  4. Biar mati badanku kini
    Payah benar menempuh hidup

    Hanya khayal sepanjang hidup
    Biar muram pusaraku sunyi
    Cucuk kerah pudingnya redup
    Lebih nyaman tidur di kubur
    __________
    (HAMKA, 1945)

    BalasPadam

tq